Untung Bertransaksi dengan Allah
Ayoo…kita
tergerak, bergerak dan menggerakkan 3J. Jama’ah, Jam’iyah dan Jariyah. Jama’ah
dengan optimalisasi masjid, PRM, dan PCM. Jam’iyah bisa dengan sistem, SDM,
Jaringan, Keuangan. Dan Jariyah dengan pendidikan, Kesehatan, sosial,
kemanusiaan dan ekonomi.
Kita pahami visi Muhamamdiyah:
“Terwujudnya
masyarakat Islam sebenar-benarnya, mandiri, maju dan sejahtera.”
Masyarakat
Islam sebenar-benarnya bermakna satu kondisi masyarakat yang mengaku beragama
Islam yang menjalankan syariat (aqidah, ibadah dan mu’amalah) dengan
sebenar-benarnya. Penerapan nilai-nilai dan ajaran Islam membawa kerahmatan
bagi umat lainnya.
Mandiri
bermakna Muhammadiyah dengan potensi dan kemampuannya mampu berdiri di atas
kaki sendiri tanpa tergantung pihak lain dan mampu memberikan keberdayaan bagi
lingkungannya.
Maju,
bermakna Muhammadiyah memiliki kemampuan dan prestasi, mampu berkompetisi dan
berkreasi dalam penguasaan IPTEKS dan kecerdasan hidup.
Sejahtera,
bermakna warga Muhammadiyah dan masyarakat umumnya memiliki indeks mutu hidup
yang tinggi (pendidikan, kesehatan, dan ekonomi).
Maka,
misinya:
1)
Menegakkan tauhid yang murni
berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.
2)
Menyebarluaskan dan memajukan
Ajaran Islam yang bersumber pada Al Quran dan As-Sunnah yang shahihah/maqbulah.
3)
Mewujudkan kehidupan Islami dalam
kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara.
4)
Memajukan dan mensejahterakan
warga dan umat dengan mengimplementasikan nilai-nilai Islam ke dalam berbagai
kompetensi bidang ipoleksosbud menuju kemandirian gerakan
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ وَاِ لَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُ
مُوْرُ
"Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang
ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan."
(QS. Ali 'Imran: Ayat 109)
Pahami :
QS.11:123; 24:64; 39:44; 43:85; 57:5.
Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat
hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai 4 hal: (1) umurnya, untuk
apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah
telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia
belanjakan. (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).
Di antara
rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala dalam proses penciptaan manusia adalah
pemberian petunjuk. Apabila kita ingin beruntung, maka kita harus berpegang
petunjuk berupa al Qur’an dan as Sunnah.
Kita
lihat, Qs. Ke-87, Surat al A’la, ayat 2-3.
الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰىۖ،
وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰىۖ
yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya), yang menentukan
kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,
Kita tahu, bahwa hidup itu indah bagi orang yang bisa
menikmatinya. Hidup itu permainan bagi orang yang mampu memegang peranan. Hidup
itu persoalan bagi orang yang mengangapnya sebagai persoalan yang harus di
selesaikan. Hidup itu masalah bagi orang yang menganggapnya semuanya menjadi
masalah. Hidup itu ladang amal bagi orang yang beriman yang selalu membuatnya
dirinya bermanfaat bagi kehidupan. Bisa peduli agama, bisa peduli lingkungan,
bisa peduli sistem dan bisa peduli lingkungan.
Bagi yang merasakan hidup itu indah, tidak ingin mengakhiri
hidupnya. Bagi yang merasa frustasi, kecewa, resah, gelisah, putus asa, banyak
masalah, hidup terasa beban. Mungkin suatu saat kitapun mengalami. Bagi orang
yang beriman, keadaan seperti ini adalah bagian dari ujian keimanan. Apakah
kita sabar menghadapinya? Apakah kita istiqomah dalam menghambakan diri kepada
Allah? Apakah kita sadar bahwa banyak membuat kesalahan di hadapan Allah?
Apakah kita masih ingat nikmat Allah yang tak terhitung yang selalu tercurah
kepada kita? Apakah kita masih terus memohon ampun kepada Allah? Apakah kita
masih taat kepada Allah?
Kita tahu hidup adalah ujian keimanan. Kita lihat Qs. Ke 11,
surat Hud: 7
اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ
اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ
Kecuali, orang-orang yang sabar dan beramal saleh, bagi
mereka ampunan dan pahala yang besar.
Maka, sebelum kita untung dalam bertransaksi dengan Allah,
pasti kita akan diuji. Ujian berupa dari ujian istri, suami, harta dan anak.
Kita lihat Qs. Ke 64, surat At Taghabun ayat: 14-15
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ
مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ
تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan
anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.719) Maka, berhati-hatilah kamu
terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka),
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ
فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi
Allahlah (ada) pahala yang besar.
Maka, ingatlah bahwa kita punya Al Qur’an sebagai Kompas
petunjuk kehidupan di dunia dan di akhirat sebagai penolong, sebagai syafaat
untuk para pembacanya.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا
لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacalah Al-Qur’an
karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para
pembacanya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 804]
Seseorang yang gemar membaca al Qur’an dari waktu ke waktu,
lalu menindaklanjutinya dengan mengamalkan apa yang dibaca, melaksanakan sholat
lima waktu dengan memperhatikan kewajiban, sunnah, dan etika secara khusyuk
juga senang menginfakkan Sebagian hartanya kepada yang membutuhkan (baik infak
wajib atau sunnah, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi) secara tulus,
sejatinya orang itu sedang bertransaksi dengan Allah.
Kita lihat Qur’an surat Fathir, surat ke 35 ayat 29-30.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ
اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا
وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah
(Al-Qur’an), menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami
anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu
mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.
لِيُوَفِّيَهُمْ اُجُوْرَهُمْ
وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّهٗ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ
Demikian itu) agar Allah menyempurnakan
pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Mensyukuri.
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar